Jumat, 06 September 2013

Cerita Cinta di Balik Masa Ospek


Tinggal menghitung hari, libur panjang semester 6 segera berakhir. Tak terasa kini sudah hampir memasuki kuliah semester 7. Ya, ke depan akan mulai disibukkan lagi dengan kuliah, nge-Lab alias praktikum, dan tentunya proposal skripsi. Sejenak teringat kembali masa-masa awal masuk kuliah. Sebagai mahasiswa baru aku juga melewati masa orientasi mahasiswa baru atau biasa disebut dengan istilah ‘ospek’. Saat-saat yang cukup berat bagiku, juga bisa dibilang agak membosankan hingga rasanya ingin sekali ospek ini segera berakhir. 


Alhamdulillah dengan segala kemudahan yang Alloh limpahkan semua jadi terasa cepat berlalu. Aku beruntung, Alloh menganugerahkan kepadaku Ibu dan Bapak yang sangat perhatian pada putra-putrinya. Disaat aku merasakan beban yang cukup berat karena kesedihan tidak lolos ujian SNMPTN, tapi aku sangat bahagia dan bersyukur akhirnya dengan izin Alloh aku bisa melanjutkan studi di jurusan yang memang aku impikan sejak kecil, FARMASI. Karena memang orang tuaku tidak pernah menuntutku untuk harus kuliah di PTN. Asalkan -kalau bisa- tidak kuliah di luar kota jadi bisa bertemu dengan anaknya setiap hari, itu sudah cukup. 

Kembali pada masa-masa ospek tadi, karena belum terbiasa dengan jalanan menuju kampus yang cukup jauh, hingga beberapa hari Bapak mengantarku berangkat ke kampus ba’da shubuh dan menjemputku menjelang maghrib. Dengan segala tugas ospek yang sangat meribetkan, suruh cari barang ini itu serba yang aneh-aneh. Beberapa yang masih ku ingat, waktu itu suruh cari buah yang namanya sengaja dibikin aneh. Buah yang panjang (baca: buah peer), Ratu Bugil (sekilas namanya terdengar ‘saru’) tapi setelah aku pikir-pikir ternyata yang dimaksud adalah buah nanas dengan mahkota daunnya lalu dikupas kulitnya (ayak-ayak waeh panitia ospek yang kurang kerjaan bikin nama seaneh itu), suruh bawa bekal nasi dengan lauk sambal goreng dan dibungkus dengan telur dadar plus daun pisang (dan ternyata yang dimaksud adalah arem-arem), bikin list nama sejumlah apotek di Solo Raya beserta nama Apotekernya, cari alat-alat Lab yang sebelumnya aku masih merasa asing dengan nama alat-alatnya, dan juga suruh bawa bibit pohon jati. Yang bikin kesel, itu tugas selalu disuruh search sendiri di blog prosimaru dan baru diupload sore hari menjelang maghrib, padahal semua tugas itu harus dibawa esok harinya. 

Alhamdulillah, dengan sabar Bapak selalu berusaha membantuku untuk mencari barang-barang yang ditugaskan selama ospek. Setelah pagi buta mengantarku ke kampus, sebelum kembali tidak lupa Bapak selalu menanyakan “nanti pulangnya jam berapa? Mau dijemput jam berapa? ” Karena aku juga belum tahu pastinya pulang jam berapa jadi aku jawab, “nanti aku sms ya Pak..” “Nanti  tugasnya apa aja sms-in Bapak ya biar bisa cepet Bapak carikan,” tambahnya. Sampai hari menjelang malam bahkan sebelum aku sms Bapak, beliau selalu sms duluan, “nanti Bapak jemput jam berapa?” Aku balas, “jam 17.00 aja pak.”  Tapi seperti biasanya, setiap kali aku pergi ke manapun itu kalau Bapak perlu jemput pasti beliau selalu datang lebih awal dari jam yang aku sebutkan. Dari kecil Bapak selalu mengajarkanku untuk disiplin waktu, berusaha on time. Bagi Bapak tidak apa-apa kalau beliau harus menungguku cukup lama, daripada aku yang harus menunggu. Subhanalloh walhamdulillah, betapa sayangnya beliau padaku. Beliau tidak mau kalau putrinya  harus menunggunya sendirian, bahkan ternyata dari siang beliau sudah menungguku di masjid dekat kampus. Itulah keistimewaan dan kemuliaan seorang wanita, Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan wanita jika keluar rumah harus bersama mahromnya, kecuali kalau memang ada kebutuhan yang mendesak. Kebanyakan orang bilang kalau anak laki-laki itu cenderung lebih dekat dengan ibunya, dan sebaliknya anak perempuan dekat dengan Bapaknya. Sepertinya itu juga berlaku untukku, tapi bukan berarti aku tidak dekat dengan Ibu. Bahkan bisa dibilang aku sangat dekat dengan Ibu. Kadang kala banyak hal yang memang hanya bisa aku utarakan pada Ibu. Ibu lah yang paling mengerti segala yang aku rasakan, tapi tentu saja yang pertama adalah Alloh. Saat sakit pun –biidznillah- dengan usapan tangan lembut ibu seakan semua sakit itu hilang.

Setelah pulang dari kampus aku dan Bapak sekalian cari barang-barang tadi, bahkan sampai larut malam. Di rumah, Ibu dan adik juga sudah menunggu dan ikut membantuku. Segala puji untuk-Mu ya Alloh.. betapa beruntungnya aku punya keluarga yang sungguh sangat luar biasa. Terimakasih atas segalanya Bapak, Ibu. Jazakumullohu khairan katsiran.. Sudah sebesar ini mungkin belum ada sesuatu yang berarti yang bisa kuberikan pada kalian, bahkan mungkin aku sering membuat kalian sedih dan menangis. Maafkan putrimu ini, maafkan aku Bapak.. Ibu.. InsyaAlloh aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk membahagiakan kalian, mewujudkan apa yang menjadi harapan kalian. Semoga Alloh memberikan kemudahan, kebaikan, dan keberkahan bagi kita semua. Senantiasa melimpahkan Rahmat, cinta, dan kasih sayang-Nya di tengah keluarga kita, selamat di dunia dan di akhirat nanti. Aku sayang Ibu.. Bapak.. adik.. Aku mencintai kalian semua karena Alloh.

Terimakasih untuk seorang teman yang telah menginspirasiku untuk menulis lagi.


Rumah kecilku nan penuh cinta, 5 Sept 2013.
Fatihah Kartikani

0 komentar:

Posting Komentar