Tinggal menghitung
hari, libur panjang semester 6 segera berakhir. Tak terasa kini sudah hampir memasuki
kuliah semester 7. Ya, ke depan akan mulai disibukkan lagi dengan kuliah, nge-Lab
alias praktikum, dan tentunya proposal skripsi. Sejenak teringat kembali
masa-masa awal masuk kuliah. Sebagai mahasiswa baru aku juga melewati masa
orientasi mahasiswa baru atau biasa disebut dengan istilah ‘ospek’. Saat-saat
yang cukup berat bagiku, juga bisa dibilang agak membosankan hingga rasanya
ingin sekali ospek ini segera berakhir.
Alhamdulillah dengan
segala kemudahan yang Alloh limpahkan semua jadi terasa cepat berlalu. Aku
beruntung, Alloh menganugerahkan kepadaku Ibu dan Bapak yang sangat perhatian
pada putra-putrinya. Disaat aku merasakan beban yang cukup berat karena
kesedihan tidak lolos ujian SNMPTN, tapi aku sangat bahagia dan bersyukur
akhirnya dengan izin Alloh aku bisa melanjutkan studi di jurusan yang memang
aku impikan sejak kecil, FARMASI. Karena memang orang tuaku tidak pernah
menuntutku untuk harus kuliah di PTN. Asalkan -kalau bisa- tidak kuliah di luar
kota jadi bisa bertemu dengan anaknya setiap hari, itu sudah cukup.
Kembali pada masa-masa
ospek tadi, karena belum terbiasa dengan jalanan menuju kampus yang cukup jauh,
hingga beberapa hari Bapak mengantarku berangkat ke kampus ba’da shubuh dan
menjemputku menjelang maghrib. Dengan segala tugas ospek yang sangat
meribetkan, suruh cari barang ini itu serba yang aneh-aneh. Beberapa yang masih
ku ingat, waktu itu suruh cari buah yang namanya sengaja dibikin aneh. Buah
yang panjang (baca: buah peer), Ratu Bugil (sekilas namanya terdengar ‘saru’)
tapi setelah aku pikir-pikir ternyata yang dimaksud adalah buah nanas dengan
mahkota daunnya lalu dikupas kulitnya (ayak-ayak waeh panitia ospek yang kurang
kerjaan bikin nama seaneh itu), suruh bawa bekal nasi dengan lauk sambal goreng
dan dibungkus dengan telur dadar plus daun pisang (dan ternyata yang dimaksud
adalah arem-arem), bikin list nama sejumlah
apotek di Solo Raya beserta nama Apotekernya, cari alat-alat Lab yang
sebelumnya aku masih merasa asing dengan nama alat-alatnya, dan juga suruh bawa
bibit pohon jati. Yang bikin kesel, itu tugas selalu disuruh search sendiri di blog prosimaru dan
baru diupload sore hari menjelang maghrib,
padahal semua tugas itu harus dibawa esok harinya.
Alhamdulillah, dengan
sabar Bapak selalu berusaha membantuku untuk mencari barang-barang yang
ditugaskan selama ospek. Setelah pagi buta mengantarku ke kampus, sebelum
kembali tidak lupa Bapak selalu menanyakan “nanti pulangnya jam berapa? Mau
dijemput jam berapa? ” Karena aku juga belum tahu pastinya pulang jam berapa
jadi aku jawab, “nanti aku sms ya Pak..” “Nanti
tugasnya apa aja sms-in Bapak ya biar bisa cepet Bapak carikan,”
tambahnya. Sampai hari menjelang malam bahkan sebelum aku sms Bapak, beliau
selalu sms duluan, “nanti Bapak jemput jam berapa?” Aku balas, “jam 17.00 aja
pak.” Tapi seperti biasanya, setiap kali
aku pergi ke manapun itu kalau Bapak perlu jemput pasti beliau selalu datang
lebih awal dari jam yang aku sebutkan. Dari kecil Bapak selalu mengajarkanku
untuk disiplin waktu, berusaha on time.
Bagi Bapak tidak apa-apa kalau beliau harus menungguku cukup lama, daripada aku
yang harus menunggu. Subhanalloh walhamdulillah, betapa sayangnya beliau
padaku. Beliau tidak mau kalau putrinya
harus menunggunya sendirian, bahkan ternyata dari siang beliau sudah
menungguku di masjid dekat kampus. Itulah keistimewaan dan kemuliaan seorang
wanita, Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan wanita jika keluar rumah
harus bersama mahromnya, kecuali kalau memang ada kebutuhan yang mendesak.
Kebanyakan orang bilang kalau anak laki-laki itu cenderung lebih dekat dengan
ibunya, dan sebaliknya anak perempuan dekat dengan Bapaknya. Sepertinya itu
juga berlaku untukku, tapi bukan berarti aku tidak dekat dengan Ibu. Bahkan
bisa dibilang aku sangat dekat dengan Ibu. Kadang kala banyak hal yang memang
hanya bisa aku utarakan pada Ibu. Ibu lah yang paling mengerti segala yang aku
rasakan, tapi tentu saja yang pertama adalah Alloh. Saat sakit pun –biidznillah- dengan usapan tangan lembut
ibu seakan semua sakit itu hilang.
Setelah pulang dari
kampus aku dan Bapak sekalian cari barang-barang tadi, bahkan sampai larut
malam. Di rumah, Ibu dan adik juga sudah menunggu dan ikut membantuku. Segala
puji untuk-Mu ya Alloh.. betapa beruntungnya aku punya keluarga yang sungguh
sangat luar biasa. Terimakasih atas segalanya Bapak, Ibu. Jazakumullohu khairan
katsiran.. Sudah sebesar ini mungkin belum ada sesuatu yang berarti yang bisa
kuberikan pada kalian, bahkan mungkin aku sering membuat kalian sedih dan
menangis. Maafkan putrimu ini, maafkan aku Bapak.. Ibu.. InsyaAlloh aku akan
berusaha memberikan yang terbaik untuk membahagiakan kalian, mewujudkan apa yang
menjadi harapan kalian. Semoga Alloh memberikan kemudahan, kebaikan, dan
keberkahan bagi kita semua. Senantiasa melimpahkan Rahmat, cinta, dan kasih
sayang-Nya di tengah keluarga kita, selamat di dunia dan di akhirat nanti. Aku
sayang Ibu.. Bapak.. adik.. Aku mencintai kalian semua karena Alloh.
Terimakasih untuk
seorang teman yang telah menginspirasiku untuk menulis lagi.
Rumah kecilku nan
penuh cinta, 5 Sept 2013.
Fatihah
Kartikani








0 komentar:
Posting Komentar