Parkinson
adalah gangguan otak progresif yang menimbulkan gangguan neurologik gerakan
otot, dengan tanda-tanda tremor, kaku otot, bradikinesia (lambat dalam memulai dan
melakukan gerakan) kelainan posisi tubuh dan cara berjalan.
Etiologi
Penyebab penyakit parkinson tidak diketahui, tetapi ada hubungannya dengan
penurunan aktivitas inhibitor neuron dopaminergik dalam substansi nigra dan
korpus stratum dari sistem ganglia basalis otak yang berfungsi mengatur
gerakan.
Substansi nigra, merupakan sumber neuron dopaminergik yang berakhir
dalam striatum. Setiap neuron dopaminergik akan membuat ribuan kontaks dalam
striatum dan memodulasi sebagian aktivitas sel.
Striatum, striatum
dan substansi nigra dihubungkan oleh neuron yang mengeluarkan transmitter
inhibitor GABA diterminal dalam substansi nigra. Sebaliknya sel-sel substansi
nigra mengirim neuron ke striatum dengan transmitter dopamin di ujung terminalnya.
Mekanisme terjadinya gangguan neurotransmitter yang menyebabkan penyakit parkinson,
1. Dopamin bekerja sebagai neurotransmiter inhibisi, Asetilkolin bekerja sebagai neurotransmiter eksitasi, keduanya bekerja saling menyeimbangkan.
2. Pada penyakit parkinson terjadi penurunan dopamin karena neuron pada substansi nigra berkurang sehingga sekresi dopamin dalam neostriatum pun menurun.
3. Tanpa dopamin neuron akan distimulasi berlebihan oleh Ach menyebabkan tonus (ketegangan) otot berlebihan yang ditandai oleh tremor dan rigiditas (kaku).
Mekanisme terjadinya gangguan neurotransmitter yang menyebabkan penyakit parkinson,
1. Dopamin bekerja sebagai neurotransmiter inhibisi, Asetilkolin bekerja sebagai neurotransmiter eksitasi, keduanya bekerja saling menyeimbangkan.
2. Pada penyakit parkinson terjadi penurunan dopamin karena neuron pada substansi nigra berkurang sehingga sekresi dopamin dalam neostriatum pun menurun.
3. Tanpa dopamin neuron akan distimulasi berlebihan oleh Ach menyebabkan tonus (ketegangan) otot berlebihan yang ditandai oleh tremor dan rigiditas (kaku).
Golongan Obat Pada
Penyakit Parkinson
1. levodopa
2. Bromokriptin
3. Amantadin
4. Deprenil
5. Triheksifenidil, Benzotropin, Biperidin (Golongan Antimuskarinik)
1. levodopa
2. Bromokriptin
3. Amantadin
4. Deprenil
5. Triheksifenidil, Benzotropin, Biperidin (Golongan Antimuskarinik)
Tujuan terapi pada
Penyakit Parkinson adalah :
1. Mengembalikan dopamin dalam ganglia basalis (ganglion yang ada di neostriatum)
2. Melawan eksitasi neuron kolinergik
3. Sehingga terjadi keseimbangan kembali dopamin/Ach.
1. Mengembalikan dopamin dalam ganglia basalis (ganglion yang ada di neostriatum)
2. Melawan eksitasi neuron kolinergik
3. Sehingga terjadi keseimbangan kembali dopamin/Ach.
SKIZOPRENIA
Skizoprenia
adalah jenis psikosis dengan berbagai gangguan kepribadiaan disertai perubahan
cara berfikir, perasaannya dan hubungannya dengan lingkungannya. Biasanya
gangguan mental ini terjadi disebabkan disfungsi otak yang diwariskan.
Gejala dasar pada gangguan skizoprenia adalah berfikir (kacau, lupa tiba2, perubahan urutan berfikir), acuh tak acuh, mudah terangsang, hilangnya kontak dengan lingkungan, merasa asing sendiri, terpecahnya kepribadiaan. Selain gejala dasar adapula gejala tambahan yaitu, halusinasi, gila (rasa diikuti, rasa seperti keracunan, gila seks), tidak mau melakukan aktivitas, ungkapan2 aneh, pembentukan istilah2 baru, pengulangan terus menerus. Setiap gangguan kejiwaan diamati dari gejala2 yang ditimbulkan dan dialami oleh penderita, sehingga dapat membedakan gangguan kejiwaan satu dengan gangguang kejiwaan yang lainnya.
Penyebab skizoprenia secara farmakologis adalah peningkatan aktivitas neuron dopaminergik pada otak (SSP), sehingga golongan obat yang digunakan untuk pengobatan skizoprenia adalah menurunkan aktivitas neuron dopamin.
Gejala dasar pada gangguan skizoprenia adalah berfikir (kacau, lupa tiba2, perubahan urutan berfikir), acuh tak acuh, mudah terangsang, hilangnya kontak dengan lingkungan, merasa asing sendiri, terpecahnya kepribadiaan. Selain gejala dasar adapula gejala tambahan yaitu, halusinasi, gila (rasa diikuti, rasa seperti keracunan, gila seks), tidak mau melakukan aktivitas, ungkapan2 aneh, pembentukan istilah2 baru, pengulangan terus menerus. Setiap gangguan kejiwaan diamati dari gejala2 yang ditimbulkan dan dialami oleh penderita, sehingga dapat membedakan gangguan kejiwaan satu dengan gangguang kejiwaan yang lainnya.
Penyebab skizoprenia secara farmakologis adalah peningkatan aktivitas neuron dopaminergik pada otak (SSP), sehingga golongan obat yang digunakan untuk pengobatan skizoprenia adalah menurunkan aktivitas neuron dopamin.
Golongan Obat
antiskizoprenia (neuroleptik, antipsikotik, transkuilizer mayor)
Terdapat 5 (lima) golongan obat antiskizoprenia yaitu :
1. Golongan Fenotiazin yaitu, Klorpromazin, Flupenazin, Proklorperazin, Promazin, Prometazin, Tioridazin.
2. Golongan Butirofenon yaitu, haloperidol.
3. Golongan Benzisoksazol yaitu, Risperidon.
4. Golongan Tioxanti yaitu, Tiotiksen.
5. Golongan Dibenzodiazepin yaitu, Klozapin.
Mekanisme Kerja Obat Neuroleptika (Antiskizoprenia) secara umum adalah menghambat reseptor dopamin dalam otak dan perifer dan serotonin dalam otak.
Terdapat 5 (lima) golongan obat antiskizoprenia yaitu :
1. Golongan Fenotiazin yaitu, Klorpromazin, Flupenazin, Proklorperazin, Promazin, Prometazin, Tioridazin.
2. Golongan Butirofenon yaitu, haloperidol.
3. Golongan Benzisoksazol yaitu, Risperidon.
4. Golongan Tioxanti yaitu, Tiotiksen.
5. Golongan Dibenzodiazepin yaitu, Klozapin.
Mekanisme Kerja Obat Neuroleptika (Antiskizoprenia) secara umum adalah menghambat reseptor dopamin dalam otak dan perifer dan serotonin dalam otak.
Indikasi
neuroleptika (antiskizorenia) adalah,
1. sebagai antipsikotik/antiskizoprenia : mengurangi halusinasi dan agitasi dengan cara menghambat reseptor dopamin di otak. Efek menenangkan dan mengurangi gerakan spontan. Berbeda dengan depresan SSP lain, golongan neuroleptik tidak menekan fungsi intelektual.
2. sebagai pencegahan mual dan muntah (pada peristiwa mual muntah juga terjadi peningkatan pelepasan dopamin).
Telah dikatakan bahwa mual muntah juga diakibatkan karena peningkatan dopamin, maka penggunaan neuroleptika dapat juga diberikan untuk kasus mual muntah selain sebagai antiskizoprenia, dibawah ini penggunaan neuroleptika untuk gejala mual muntah sesuai penyebabnya (lebih spesifik).
- Obat Meklizin, dimenhidrinat digunakan untuk antiemetik karena vertigo.
- Obat Skopolamin, Prometazin, digunakan sebagai antiemetik pada mabuk jalan.
- Obat Domperidon, metoklorpramid, digunakan untuk antiemetik pada kemoterapi kanker
- Obat Tietilperazin, domperidon adalah antiemetik pada terapi radiasi.
1. sebagai antipsikotik/antiskizoprenia : mengurangi halusinasi dan agitasi dengan cara menghambat reseptor dopamin di otak. Efek menenangkan dan mengurangi gerakan spontan. Berbeda dengan depresan SSP lain, golongan neuroleptik tidak menekan fungsi intelektual.
2. sebagai pencegahan mual dan muntah (pada peristiwa mual muntah juga terjadi peningkatan pelepasan dopamin).
Telah dikatakan bahwa mual muntah juga diakibatkan karena peningkatan dopamin, maka penggunaan neuroleptika dapat juga diberikan untuk kasus mual muntah selain sebagai antiskizoprenia, dibawah ini penggunaan neuroleptika untuk gejala mual muntah sesuai penyebabnya (lebih spesifik).
- Obat Meklizin, dimenhidrinat digunakan untuk antiemetik karena vertigo.
- Obat Skopolamin, Prometazin, digunakan sebagai antiemetik pada mabuk jalan.
- Obat Domperidon, metoklorpramid, digunakan untuk antiemetik pada kemoterapi kanker
- Obat Tietilperazin, domperidon adalah antiemetik pada terapi radiasi.
Kerja
obat neuroleptik menghambat dopamin dan atau serotonin, selain itu banyak obat2
neuroleptik yang menghambat reseptor kolinergik, adrenergik, histamin dengan
berbagai efek samping, diantaranya efek antimuskarinik seperti kabur, mulut
kering, sedasi, bingung, kontipasi, retensi urin. Efek anti adrenergik seperti
hipotensi, pusing. Semua obat neuroleptika bekerja menghambat dopamin sehingga
hampir semua mempunyai efek antiemetik (seperti diterangkan diatas).
Daftar Pustaka
Anonim. 2010.
Farmakologi Molekuler.
Ikawati, Z. 2008. Pengantar Farmakologi Molekuler.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Fatihah Kartikani
Pharmacist








0 komentar:
Posting Komentar