Terkadang pada saat-saat tertentu
sikap cuek itu diperlukan. Sikap cuek yang saya maksud di sini adalah
tidak terlalu menggubris penilaian orang lain terhadap kita. Saat kita dicela
orang lain sikapi dengan sabar, berusaha menahan amarah meskipun mungkin kita
mampu membalasnya, karena jika kita membalasnya dengan sikap yang serupa maka
kita tak ada bedanya dengan mereka.
Jangan pernah berharap selamat
dari ocehan manusia, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tersucikan
pun tak selamat dari ocehan. Maka jangan engkau pedulikan celaan dan pujian
manusia. Dan jangan engkau takut kecuali kepada Alloh.
Sebisa
mungkin balaslah dengan tutur kata yang baik karena tutur kata yang baik adalah
sedekah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tutur kata
yang baik adalah sedekah" (HR. Ahmad dan disebutkan oleh Al Bukhari secara
mu'allaq dalam kitab shahihnya). Ibnu Baththol mengatakan, "Tutur kata
yang baik adalah sesuatu yang dianjurkan dan termasuk amalan kebaikan yang
utama. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikannya sebagaimana
sedekah dengan harta. Antara tutur kata yang baik dan sedekah dengan harta
memiliki keserupaan. Sedekah dengan harta dapat menyenangkan orang yang diberi
sedekah. Sedangkan tutur kata yang baik juga akan menyenangkan mukmin lainnya
dan menyenangkan hatinya. Dari sisi ini, keduanya memiliki kesamaan (yaitu
sama-sama menyenangkan orang lain)" (Syarh Shahih Bukhari Ibnu Baththol).
Di saat kita mela suatu kebaikan jangan pernah sekalipun mengharapkan pujian dari orang lain. Cukuplah Alloh yang akan menilai dan memberikan balasan yang terbaik bagi kita apabila kita benar-benar ikhlas hanya karena mengharap ridho Alloh. Hidup ini hanya untuk Alloh. Mutiara Imam Syafi'i rohimahulloh:
Di saat kita mela suatu kebaikan jangan pernah sekalipun mengharapkan pujian dari orang lain. Cukuplah Alloh yang akan menilai dan memberikan balasan yang terbaik bagi kita apabila kita benar-benar ikhlas hanya karena mengharap ridho Alloh. Hidup ini hanya untuk Alloh. Mutiara Imam Syafi'i rohimahulloh:
"Sungguh
engkau tidak akan mampu menjadikan SEMUA manusia RELA kepadamu, maka
perbaikilah hubunganmu dengan Alloh azza wajall... Lalu jika engkau telah
memperbaiki hubunganmu dengan Alloh, maka JANGAN kau PEDULIKAN manusia"
(Kitab Zuhud Kabir, Karya Imam Baihaqi, hal: 105).
Kita hidup adalah untuk Alloh, sehingga yang
terpenting adalah pandangan Alloh terhadap kita. Jika hal ini bisa tercapai,
kita tak akan lagi peduli dengan penilaian manusia. Hasilnya adalah puncak dari
keikhlasan dan ketegaran. Orang yang ikhlas
akan sama saja ketika ia dipuji dan dicela. Dipuji
tidak melambung, dicela tidak pula limbung.
Supaya
hati kita selalu nyaman terhadap orang lain hendaknya kita senantiasa berbaik
sangka terhadap orang lain. Berkata Umar ibnul khattab,”Tidaklah engkau
mendapati apapun dari saudaramu yang cenderung ke hal negatif kecuali selalu
engkau arahkan ke hal positif.” Menjaga lisan, banyak diam di rumah, lebih sibuk
mencari aib sendiri, jangan terlalu menghiraukan perkataan orang lain, dan
tentunya kita selalu berdo’a: “Allahummakfiniihim bima syi’ta” (Ya Alloh,
lindungilah aku dari mereka menurut apa yang Engkau kehendaki).”
Menyimpan
amarah atau rasa dendam itu bagai racun dalam tubuh. Ia akan mengontaminasi dan
mengendalikanmu hingga akhirnya ia akan membuatmu selalu gelisah dan menuntunmu
berbuat hal yang lebih buruk.
Sesungguhnya
hal yang dapat mendatangkan ketenangan bukanlah karena kita dapat melampiaskan
amarah atau dapat membalas rasa kekecewaan, namun ketenangan akan datang dengan
memaafkan. Ketenangan akan datang karena ketaatan kita kepada Alloh.
Semoga
Alloh senantiasa menjaga lisan kita, menerangi hati kita dengan hidayah-Nya,
dan meneguhkan langkah kita di atas jalan yang haq..
Sukoharjo, 22 Agustus 2014
Fatihah Kartikani
Clinical Pharmacy and Community








0 komentar:
Posting Komentar