Sabtu, 09 Februari 2013

Kiat Istiqamah di Bangku Kuliah

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Alloh dengan segala sifat-Nya yang terpuji, Rabb semesta alam, Yang Maha Menciptakan semua makhluk-Nya lagi Maha Menegakkan langit dan bumi. Shalawat dan salam semogaterlimpahkan pada sayyidul awwalin wal akhirin, penutup para nabi dan rasul, seluruh keluarga, dan para sahabatnya.
Saudaraku… Istiqamah merupakan perkara agung dan tidak bisa diremehkan, yang diberikan oleh Alloh kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Istiqamah secara bahasa yaitu al i’tidal: lurus : mengarahkan kepada Alloh, bukan selain-Nya. Sedangkan istiqamah secara istilah yaitu senantiasa taat kepada Alloh. Istiqamah yaitu tidak berlebihan (ghuluw) dan tidak meremehkan, akan tetapi istiqamah adalah sikap tengah dalam segala perkara, dalam ucapan dan perbuatan.
 “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 112)
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Alloh", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS.Al-Ahqaaf: 13)
Dari Sufyan bin Abdullah al-Tsaqafy, ia berkata; Aku pernah bertanya; Wahai Rasulullah! Beritahukanlah kepadaku satu ucapan dalam Islam yang tidak akan kutanyakan lagi kepada selainmu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,” Ucapkanlah; Aku beriman kepada Alloh , lalu Istiqamahlah”. (HR.Muslim).

Pembagian istiqamah
1.      Istiqamah dzahir, yaitu melalui ucapan dan perbuatan
2.      Istiqamah bathin, yaitu dengan hati mngimani.

Keutamaan istiqamah
1     1.     Hilangnya rasa takut dan sedih di dunia dan di akhirat, serta mendapat surga.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Alloh" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fushshilat: 30)
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut (QS. Fushshilat: 30) adalah orang-orang yang mentauhidkan Alloh dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid. Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu (lihat Syarh Nawawi [2/92]).
2    2.  Mendapat perlindungan dan pertolongan Alloh, serta mendapat kesenangan yang diinginkan.
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Alloh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 31-32)
Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Alloh, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Alloh niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Alloh, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh…” (HR. Tirmidzi: hasan shahih).
3    3.      Mudah mendapat rizqi dari Alloh
Imam al-Qurtubi berkata, "Hati yang istiqamah adalah hati yang senantiasa lurus dalam ketaatan kepada Alloh, baik berupa keyakinan, perkataan, maupun perbuatan." Hati yang istiqamah adalah jalan menuju keberhasilan di dunia dan keselamatan dari azab akhirat. Hati yang istiqamah akan membuat seseorang dekat dengan kebaikan, rezekinya akan dilapangkan dan akan jauh dari hawa nafsu dan syahwat. Dengan hati yang istiqamah, maka malaikat akan turun untuk memberikan keteguhan dan keamanan serta ketenangan dari ketakutan terhadap adzab kubur. Hati yang istiqamah akan membuat amal diterima dan menghapus dosa.
4    4.      Mendapatkan khusnul khotimah.

Beberapa kiat supaya istiqamah di bangku kuliah di antaranya:

1    1.  Senantiasa menuntut ilmu syar’i, mengamalkan, dan mendakwahkan sesuai kemampuan.
“... Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al-Mujadilah: 11).
“... dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha: 114).
Sesungguhnya mempelajari ilmu agama (tafaqquh fiddin) termasuk amalan yang paling utama dan termasuk  tanda kebaikan pada seseorang. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Alloh, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaihi. Shahih Bukhari: 71 dan Shahih Muslim: 1037)
Ilmu juga merupakan makanan pokok bagi jiwa, yang karenanya jiwa akan menjadi hidup dan jasad akan memiliki adab. Oleh karena itu, Islam mewajibkan ummatnya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu. طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ .
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)
2       2.   Senantiasa khasyyah (takut) kepada Alloh di manapun berada.
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minuun: 57)
Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS. An-Nahl: 50)
Tujuh (golongan) yang akan diberi naungan oleh Alloh pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya... (di antaranya): Seorang laki-laki yang menyebut Alloh di tempat yang sepi sehingga kedua matanya meneteskan air mata.(HR. al-Bukhâri, no. 660; Muslim, no. 1031).
3    3. Yakin akan muraqabah (pengawasan dari Alloh) dan malaikat mencatat setiap perbuatan kita.
“... dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Alloh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadiid: 4)
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : Bertakwalah kepada Alloh di mana saja kamu berada... “ (HR. Tirmidzi: hasan shahih)
Semua perbuatan manusia dicatat oleh malaikat dan akan mendapat balasan yang seimbang. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Alloh) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithaar: 10-12).
4       4.      Memilih kuliah di tempat yang aman dari fitnah syahwat dan fitnah syubhat.
Di antara hal-hal yang dapat menghindarkan kita dari bahaya fitnah syahwat yaitu dengan menundukkan pandangan, menghindari ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan), dan menutup aurat sesuai syari’at. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya...” (QS. An-Nuur:31).
Fitnah syubhat di antaranya adalah pemikiran-pemikiran menyimpang (sesat), seperti ilmu kalam dan ilmu filsafat. Jika kita memiliki kemampuan untuk mnghindari dari mempelajari ilmu yang menyimpang ini, maka hendaklah kita hindari.
1      5.      Berteman dengan orang-orang sholih dan memilih lingkungan yang islami
2      6.      Ingat akhirat

3      7.      Banyak beristighfar

“...dan mohonlah ampun kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.An-Nisa’: 106)

“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (QS. Hud: 90).

4      8.      Banyak berdzikir pada Alloh
“... dan ingatlah Alloh banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah:10)
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram.” (QS.Ar- Ra’d: 28).
5      9.      Meletakkan cinta kepada Alloh di atas segala-galanya
“... adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh...” (QS. Al- Baqarah: 165).
6      10.      Pertengahan di dalam amal sholih (tidak berlebihan dan tidak meremehkan)
Amal yang paling dicintai Alloh adalah amal yang terus menerus walau sedikit.” (HR. Muslim).
7      11.      Mempelajari kisah orang-orang sholih terdahulu
Hal ini diharapkan agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Bagaimana kesabaran mereka ketika menghadapi ujian yang berat, kejujuran mereka dalam bersikap, dan keteguhan mereka dalam mempertahankan keimanan. Sebagaimana firman Alloh , " Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf: 111).
8      12.      Banyak berdoa
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."(QS. Ali-Imran: 8).

Untuk menjaga keistiqamahan, Syaikh Abu Mushab dalam kitabnya al- Ilmam fi Asbaab Dho’ fi al-Iltizam menyebutkan beberapa perbuatan yang bisa melemahkan keistiqamahan di antaranya lemahnya keikhlasan, kurangnya ilmu syar’i dan jauhnya dari ahli agama, futur, lemahnya muhasabah, sibuk dengan keluarga, al-Faudhawiyah (kesemrawutan), sibuk dengan aib orang lain, tidak menghargai waktu, bergaul dengan orang yang tidak baik, dan tidak mempunyai semangat dan harapan. Akhirnya marilah senantiasa kita berdoa kepada Alloh supaya Alloh memberikan kita keistiqamahan hati di dalam agama-Nya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, beliau berdoa:
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على د ينك

“Yaa Muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘ala diinik..”(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami di atas Agama-Mu).
Wallaahu ta’ala a’lam..
(catatan kecil dari kajian ust. Abu Farhan, dengan penambahan)
Selesai ditulis di Solo, 26 Rabi'ul awal 1434 H senja gerimis
Fatihah Kartikani, Pharmacy ’10
Maraji’:
Al-Quranul kariim.
Maktabah Abu Salma al-Atsari. 2007. Istiqamah di Jalan Allah.
Syarhul Arba’iina Hadiitsan an-Nawawiyah.


0 komentar:

Posting Komentar